
Sarkopenia Adalah Gangguan Otot pada Lansia? Apakah Usia Muda Bisa Mengalaminya?
Penurunan kekuatan otot sering dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses penuaan. Padahal, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari jika tidak ditangani dengan baik. Memahami bahwa sarkopenia adalah kondisi yang dapat dicegah dan dikelola menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas hidup, baik pada lansia maupun kelompok usia yang lebih muda.
Sarkopenia Adalah Kondisi yang Tidak Hanya Terjadi pada Lansia
Secara medis, sarkopenia adalah kondisi yang ditandai dengan berkurangnya massa otot, kekuatan otot, serta kemampuan fisik seseorang. Gangguan ini paling sering ditemukan pada orang lanjut usia karena proses penuaan menyebabkan tubuh mengalami perubahan hormon, penurunan aktivitas fisik, hingga berkurangnya kemampuan tubuh dalam membentuk protein otot.
Meski identik dengan lansia, sarkopenia sebenarnya juga dapat dialami oleh orang yang masih berusia muda. Gaya hidup yang kurang aktif, jarang berolahraga, pola makan rendah protein, obesitas, hingga penyakit kronis seperti diabetes, kanker, atau penyakit ginjal dapat mempercepat hilangnya massa otot. Bahkan, seseorang yang terlalu lama menjalani tirah baring akibat cedera atau operasi juga berisiko mengalami penurunan kekuatan otot dalam waktu relatif singkat.
Menurut European Working Group on Sarcopenia in Older People (EWGSOP2), “Sarcopenia is a progressive and generalized skeletal muscle disorder that is associated with increased likelihood of adverse outcomes including falls, fractures, physical disability and mortality“. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sarkopenia bukan sekadar masalah otot yang mengecil, tetapi juga berkaitan dengan meningkatnya risiko jatuh, patah tulang, disabilitas, hingga penurunan kualitas hidup.
Faktor Risiko dan Gejala Sarkopenia Adalah Hal yang Perlu Diwaspadai
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya sarkopenia. Pertama adalah pertambahan usia, karena massa otot secara alami mulai menurun setelah usia sekitar 30 tahun dan penurunannya menjadi lebih cepat ketika memasuki usia lanjut. Kedua, kurangnya aktivitas fisik, terutama latihan beban atau latihan kekuatan yang berfungsi mempertahankan massa otot.
Selain itu, asupan protein yang tidak mencukupi juga berperan besar. Protein merupakan bahan utama pembentukan dan perbaikan jaringan otot. Kekurangan vitamin D, gangguan hormonal, serta penyakit kronis juga diketahui dapat memperburuk kondisi ini.
Gejala sarkopenia biasanya berkembang secara perlahan sehingga sering kali tidak disadari. Penderitanya dapat merasa tubuh lebih lemah, mudah lelah, kesulitan mengangkat barang, berjalan lebih lambat, hingga kehilangan keseimbangan. Pada tahap lanjut, aktivitas sederhana seperti bangun dari kursi atau menaiki tangga pun dapat menjadi lebih sulit dilakukan.
Cara Mencegah dan Mengatasi Sarkopenia
Kabar baiknya, sarkopenia bukan kondisi yang tidak bisa dicegah. Salah satu cara paling efektif adalah rutin melakukan latihan kekuatan atau resistance training. Jenis latihan ini membantu merangsang pertumbuhan otot sekaligus meningkatkan kekuatan dan keseimbangan tubuh.
Selain olahraga, kebutuhan protein harian juga harus terpenuhi. Sumber protein berkualitas seperti ikan, telur, daging tanpa lemak, susu, tempe, tahu, dan kacang-kacangan dapat membantu menjaga massa otot. Pada beberapa kondisi tertentu, dokter atau ahli gizi mungkin juga akan merekomendasikan suplementasi vitamin D apabila ditemukan kekurangan.
Tidur yang cukup, menjaga berat badan ideal, serta mengendalikan penyakit kronis juga menjadi bagian penting dalam mencegah penurunan fungsi otot. Pemeriksaan kesehatan secara berkala memungkinkan tenaga medis mendeteksi penurunan massa otot sejak dini sehingga intervensi dapat segera diberikan.
Di dunia pendidikan kesehatan, pemahaman mengenai gangguan muskuloskeletal menjadi salah satu materi penting yang dipelajari oleh calon tenaga kesehatan. Oleh karena itu, tidak sedikit calon mahasiswa yang mencari sekolah tinggi terbaik di Kaltim untuk memperoleh pendidikan yang mendukung kemampuan dalam memberikan pelayanan kesehatan berbasis ilmu pengetahuan dan praktik profesional.

Mengapa Deteksi Dini Sangat Penting?
Deteksi dini memungkinkan seseorang memperoleh penanganan sebelum sarkopenia berkembang menjadi lebih berat. Dokter dapat melakukan penilaian melalui pemeriksaan kekuatan genggaman tangan, kecepatan berjalan, pengukuran massa otot, hingga evaluasi aktivitas fisik sehari-hari.
Semakin cepat kondisi ini dikenali, semakin besar peluang mempertahankan fungsi otot dan mencegah komplikasi seperti jatuh, patah tulang, maupun penurunan kemandirian. Karena itu, baik lansia maupun orang dewasa yang memiliki faktor risiko sebaiknya mulai menerapkan gaya hidup aktif dan pola makan bergizi sejak dini.
Kesimpulan
Sarkopenia adalah gangguan yang ditandai dengan berkurangnya massa dan kekuatan otot, serta tidak hanya dialami oleh lansia, tetapi juga dapat terjadi pada usia muda akibat gaya hidup yang kurang sehat atau penyakit tertentu. Dengan olahraga teratur, asupan protein yang cukup, serta deteksi dini, risiko sarkopenia dapat dikurangi sehingga kualitas hidup tetap terjaga.
Untuk yang ingin mempelajari lebih dalam terkait berbagai penyakit, STIKes Husada Borneo merupakan salah satu institusi pendidikan yang dapat dipertimbangkan. Kampus ini menyediakan program studi yang sesuai dan mendukung pengembangan wawasan di bidang kesehatan, termasuk mengenai gangguan sistem muskuloskeletal, pencegahan penyakit degeneratif, dan edukasi kesehatan masyarakat. Informasi pendaftaran secara lengkap bisa kamu dapatkan di stikeshb.ac.id atau Instagram @stikeshb.
Sumber
https://academic.oup.com/ageing/article/48/1/16/5126243
