
Program MBG: Peran Ahli Gizi dalam Menyusun Menu Sehat
Program MBG merupakan salah satu intervensi nutrisi yang digulirkan pemerintah Indonesia untuk memastikan penyediaan makanan bergizi dan seimbang bagi kelompok rentan seperti anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Tujuan utamanya adalah memperbaiki status gizi masyarakat secara menyeluruh, sekaligus menanamkan kebiasaan pola makan sehat sejak dini. Agar tujuan ini tercapai secara efektif, penyusunan menu yang tepat menjadi hal yang sangat krusial, serta tidak hanya sekadar menyediakan makanan, tetapi juga menjamin kecukupan zat gizi sesuai kebutuhan penerima manfaat setiap hari.
Mengapa Program MBG Memerlukan Ahli Gizi?
Pada dasarnya, program MBG tidak hanya sekadar memberikan makanan secara gratis. Ia merupakan strategi nasional yang mengutamakan kualitas gizi untuk mendukung tumbuh kembang anak dan kesehatan masyarakat. Sebagai contoh, “Program MBG harus memenuhi tiga pilar: gizi seimbang, keamanan pangan, serta kehalalan dan thayyib” sehingga makanan yang disediakan benar‑benar sehat dan aman dikonsumsi.
Di sinilah peran ahli gizi menjadi sangat penting. Ahli gizi memiliki kompetensi profesional untuk memastikan bahwa menu yang disusun memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi makro maupun mikro setiap kelompok sasaran. Keterlibatan mereka membantu meminimalkan risiko menu yang tidak seimbang atau bahkan berbahaya bila disusun tanpa dasar ilmiah. Tanpa ahli gizi, menu MBG berpotensi tidak sesuai dengan standar kebutuhan gizi, yang dapat melemahkan efektivitas program dalam jangka panjang.
Peran Utama Ahli Gizi dalam Program MBG
Berikut ini adalah beberapa peran penting ahli gizi dalam program MBG:
1. Penyusunan Menu yang Seimbang dan Tepat Sasaran
Ahli gizi memiliki tanggung jawab utama dalam mengembangkan menu yang memenuhi kebutuhan gizi kelompok sasaran program. Mereka bekerja dengan data kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral untuk menyusun menu yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan maksimal bagi penerima manfaat.
Perhitungan kebutuhan gizi yang tepat harus disesuaikan antar kelompok usia, misalnya anak SD tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan ibu hamil. Selain itu, ahli gizi berperan dalam pengadaan bahan makanan yang aman serta sesuai standar. Mereka mengevaluasi nilai gizi bahan lokal, serta menghitung proporsi zat gizi yang masuk dalam setiap porsi makanan yang disajikan dalam program MBG.
2. Pengawasan Keamanan Pangan dan Kebersihan
Selain aspek gizi, keamanan pangan juga merupakan bagian esensial dalam pelaksanaan program MBG. Ahli gizi bekerja bersama tim dapur untuk memastikan setiap bahan makanan disimpan, diolah, dan disajikan sesuai standar kebersihan yang berlaku. Dengan demikian, risiko kontaminasi maupun keracunan makanan dapat diminimalkan.
Keamanan pangan ini pula yang sering menjadi sorotan publik. Tanpa pengawasan yang ketat, makanan yang tampak bergizi sekalipun dapat berujung pada kasus makanan basi atau kontaminasi mikrobiologi yang membahayakan kesehatan penerima manfaat.
3. Edukasi Gizi Bagi Penerima Manfaat
Ahli gizi tidak hanya menyusun menu, tetapi juga berperan sebagai pendidik dalam program. Edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang, cara memilih makanan sehat, hingga pemahaman label nutrisi merupakan bagian dari kegiatan yang perlu dilakukan bersamaan dengan penyajian makanan.
Edukasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pola makan sehat, baik bagi ibu hamil, ibu menyusui, sampai anak‑anak sekolah. Dengan pendidikan gizi yang tepat, diharapkan penerima manfaat tidak sekadar mengonsumsi makanan dari program MBG, tetapi juga mampu mempertahankan pola makan sehat dalam kehidupan sehari‑hari.

Tantangan Pelaksanaan Program MBG Tanpa Ahli Gizi
Walaupun program MBG memiliki tujuan yang jelas untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tantangan di lapangan akan semakin kompleks tanpa keterlibatan ahli gizi. Risiko menu yang tidak sesuai standar gizi, kurangnya variasi bahan makanan, serta potensi masalah keamanan pangan menjadi beberapa contoh yang sering muncul ketika perencanaan tidak melibatkan kompetensi yang sesuai.
Lebih jauh, penyusunan menu tanpa keahlian gizi dapat berujung pada ketidakseimbangan gizi, di mana zat makro dan mikro tidak terpenuhi dengan baik. Ini tentunya bertentangan dengan prinsip dasar kesehatan masyarakat: pencegahan penyakit dan promosi kesehatan sejak dini.
Kesimpulan
Peran ahli gizi dalam program MBG sangatlah strategis. Mereka bukan sekadar penyusun menu, tetapi juga penjaga kualitas, keamanan, serta efektivitas program gizi nasional. Dengan keterlibatan profesional yang tepat, menu MBG dapat disusun berdasarkan kebutuhan zat gizi sasaran, menjamin keamanan pangan, serta sekaligus memberikan edukasi gizi yang bermanfaat bagi komunitas luas. Keberadaan ahli gizi menjadikan MBG bukan sekadar bantuan makanan, melainkan langkah nyata dalam memperbaiki pola makan dan kesehatan generasi penerus bangsa.
Di sisi lain, bagi yang ingin lanjutkan pendidikan dengan kuliah gizi Banjarbaru, STIKes Husada Borneo merupakan salah satu institusi pendidikan yang dapat dipertimbangkan. Kampus ini menyediakan program studi yang sesuai dan mendukung pengembangan wawasan di bidang tersebut. Informasi pendaftaran secara lengkap bisa kamu dapatkan di stikeshb.ac.id atau Instagram @stikeshb.
Sumber
https://www.ums.ac.id/berita/teropong-jagat/peran-ahli-gizi-sangat-krusial-dalam-dapur-mbg
https://www.ums.ac.id/en/news/global-pulse/mbg-kitchen-and-the-paramount-of-nutritionists
https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/download/51554/31946/184760
https://e-jurnal.stiaalazka.ac.id/index.php/ojs-hipotesa/article/download/108/vol19-no1-2025-04/428
Tag:ahli gizi, MBG, menu sehat, program MBG
