
Mengapa Diet Ekstrim Sebaiknya Dihindari?
Keinginan untuk memiliki tubuh ideal sering kali mendorong seseorang mencoba berbagai cara menurunkan berat badan secara cepat. Tidak sedikit yang tergoda menjalani diet ketat dengan memangkas asupan makan secara drastis alias diet ekstrim, bahkan menghilangkan kelompok nutrisi tertentu. Padahal, langkah instan seperti ini justru berisiko bagi kesehatan jangka panjang. Alih-alih mendapatkan tubuh yang lebih bugar, diet yang terlalu ekstrem bisa menimbulkan gangguan metabolisme, kekurangan gizi, hingga masalah psikologis.
Risiko Kesehatan dari Diet Ekstrim
Diet ekstrim umumnya ditandai dengan pembatasan kalori secara berlebihan, konsumsi satu jenis makanan saja, atau pola makan yang tidak seimbang. Tubuh yang tidak mendapatkan asupan nutrisi cukup akan mengalami defisit energi dan kekurangan zat gizi penting seperti protein, vitamin, serta mineral.
Menurut World Health Organization, pola makan sehat harus mencakup keseimbangan antara karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Dalam lembar fakta resminya disebutkan bahwa “a healthy diet helps to protect against malnutrition in all its forms”. Kutipan tersebut menegaskan bahwa tubuh memerlukan variasi nutrisi untuk berfungsi optimal, bukan pembatasan berlebihan yang justru meningkatkan risiko kekurangan gizi.
Ketika seseorang menjalani diet ekstrim, tubuh akan merespons dengan memperlambat metabolisme sebagai mekanisme bertahan. Akibatnya, penurunan berat badan mungkin terjadi di awal, tetapi kemudian stagnan. Bahkan, setelah kembali ke pola makan normal, berat badan bisa naik lebih cepat dari sebelumnya, fenomena yang dikenal sebagai efek yo-yo.

Dampak Diet Ekstrim pada Metabolisme dan Mental
Selain berdampak pada fisik, diet ekstrim juga memengaruhi kondisi mental. Rasa lapar berkepanjangan dapat memicu mudah marah, sulit berkonsentrasi, hingga gangguan suasana hati. Dalam jangka panjang, pola makan yang terlalu ketat berisiko menimbulkan gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui pedoman gizi seimbang menekankan pentingnya konsumsi makanan beragam dan tidak berlebihan dalam pembatasan kalori. Dalam salah satu publikasinya disebutkan bahwa “pola makan gizi seimbang diperlukan untuk menjaga kesehatan dan mempertahankan berat badan normal”. Artinya, pendekatan yang moderat jauh lebih dianjurkan dibandingkan diet ekstrim yang tidak terkontrol.
Dari sisi metabolisme, pembatasan kalori drastis juga dapat menyebabkan kehilangan massa otot. Padahal, otot berperan penting dalam membakar kalori. Ketika massa otot berkurang, kemampuan tubuh membakar energi ikut menurun. Inilah sebabnya banyak orang yang merasa berat badannya sulit turun meski sudah makan sangat sedikit.
Alternatif Sehat Mengganti Diet Ekstrim
Daripada memilih diet ekstrim, pendekatan yang lebih aman adalah mengatur pola makan secara bertahap dan konsisten. Mengurangi porsi secara perlahan, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, serta memilih sumber protein tanpa lemak dapat membantu menurunkan berat badan dengan cara yang lebih sehat.
Aktivitas fisik teratur juga berperan besar dalam menjaga keseimbangan energi. Kombinasi antara pola makan sehat dan olahraga ringan hingga sedang terbukti lebih efektif dalam jangka panjang. Penurunan berat badan yang ideal umumnya berkisar 0,5–1 kilogram per minggu, sehingga tubuh memiliki waktu beradaptasi.
Selain itu, penting untuk memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan kalori yang berbeda. Faktor usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan memengaruhi kebutuhan tersebut. Konsultasi dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi dapat membantu menentukan rencana makan yang sesuai tanpa harus menempuh cara ekstrem.
Pentingnya Edukasi Gizi Sejak Dini
Kurangnya pemahaman mengenai prinsip gizi seimbang sering menjadi alasan seseorang tergoda mencoba diet ekstrim. Informasi yang beredar di media sosial belum tentu memiliki dasar ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, literasi gizi perlu ditingkatkan agar masyarakat mampu memilah informasi yang benar.
Mempelajari dasar-dasar ilmu gizi membantu seseorang memahami bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh angka timbangan, tetapi juga oleh keseimbangan nutrisi dan gaya hidup secara keseluruhan. Pola makan yang baik bukan sekadar membatasi, melainkan mengatur dengan bijak.
Kesimpulan
Diet ekstrim sebaiknya dihindari karena berisiko menimbulkan kekurangan gizi, gangguan metabolisme, serta masalah kesehatan mental. Meskipun menjanjikan hasil cepat, dampak jangka panjangnya justru dapat merugikan tubuh. Pendekatan yang lebih aman adalah menerapkan pola makan gizi seimbang, mengatur porsi secara bertahap, serta mengombinasikannya dengan aktivitas fisik teratur. Dengan cara ini, penurunan berat badan dapat dicapai secara sehat dan berkelanjutan.
Sementara bagi yang ingin mengambil pendidikan di bidang perekam dan informasi kesehatan KalTim, STIKes Husada Borneo merupakan salah satu institusi pendidikan yang dapat dipertimbangkan. Kampus ini menyediakan program studi yang sesuai dan mendukung pengembangan wawasan di bidang tersebut. Informasi pendaftaran secara lengkap bisa kamu dapatkan di stikeshb.ac.id atau Instagram @stikeshb.
Sumber
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet
