
Bolehkah Donor Darah Saat Berpuasa?
Bulan Ramadan membawa tantangan tersendiri bagi umat Muslim, terutama dalam menjaga kesehatan sambil beribadah. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, “Apakah aman melakukan donor darah saat berpuasa?” Donor darah adalah tindakan mulia yang bisa menyelamatkan nyawa orang lain, tetapi membutuhkan pertimbangan terkait kondisi fisik dan asupan nutrisi sebelum serta sesudahnya. Memahami prosedur, manfaat, dan risiko donor darah saat puasa penting agar tubuh tetap sehat dan puasa tidak terganggu.
Manfaat Donor Darah
Donor darah memiliki manfaat kesehatan yang terbukti secara ilmiah. Selain menyelamatkan nyawa, donor darah dapat membantu menurunkan kadar besi dalam darah sehingga mengurangi risiko penyakit jantung tertentu. Menurut American Red Cross, “Regular blood donation can improve cardiovascular health, reduce iron overload, and contribute to overall well-being”. Hal itu menunjukkan bahwa donor darah tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga bagi pendonor yang tetap sehat jika prosedur dilakukan dengan benar.
Kesiapan Fisik Sebelum Donor Darah Saat Puasa
Sebelum melakukan donor darah, tubuh harus dalam kondisi prima. Saat berpuasa, tubuh mengalami kekurangan cairan dan energi karena tidak makan atau minum selama beberapa jam. Hal ini dapat meningkatkan risiko pusing, lemas, atau mual saat donor darah dilakukan. Oleh karena itu, ahli kesehatan menyarankan beberapa hal:
- Perhatikan Hidrasi – Minum cukup air saat sahur dan berbuka agar volume darah tetap stabil.
- Konsumsi Makanan Bergizi – Karbohidrat kompleks, protein, dan sayuran saat sahur memberikan energi tahan lama.
- Hindari Donor Darah Saat Lemas – Jika tubuh merasa lemas, sebaiknya tunda donor hingga kondisi lebih fit.
Keseimbangan asupan cairan dan energi ini membantu tubuh tetap aman saat proses pengambilan darah.
Waktu Terbaik Donor Darah Saat Ramadan
Menurut Palang Merah Indonesia (PMI), “Donor darah dapat dilakukan saat berpuasa asalkan kondisi tubuh sehat dan setelah berbuka lebih dianjurkan karena risiko dehidrasi berkurang”. Artinya, donor darah bisa dilakukan sebelum atau sesudah berbuka, namun melakukan donor setelah berbuka lebih aman karena tubuh sudah mendapatkan cairan dan energi kembali. Hal ini mengurangi risiko pusing dan memastikan pendonor tetap bugar.

Prosedur dan Tips Aman Donor Darah Saat Puasa
Beberapa tips untuk menjaga keamanan donor darah saat puasa antara lain:
- Lakukan Pemeriksaan Kesehatan: Pastikan tekanan darah, hemoglobin, dan kondisi tubuh memadai.
- Minum Air Cukup Setelah Donor: Segera konsumsi 250-500 ml air atau minuman elektrolit.
- Makan Ringan Sehat: Konsumsi kurma, buah, atau roti untuk mengembalikan energi.
- Hindari Aktivitas Berat: Istirahat sejenak setelah donor agar tubuh stabil sebelum beraktivitas.
Dengan mengikuti prosedur ini, donor darah saat puasa tetap aman, sekaligus membantu menolong orang lain tanpa mengganggu ibadah.
Kesimpulan
Melakukan donor darah saat berpuasa memang memungkinkan, tetapi harus dilakukan dengan perencanaan yang tepat. Kesiapan fisik, hidrasi yang cukup, pemilihan waktu, dan konsumsi makanan bergizi menjadi kunci utama agar tubuh tetap sehat. Dengan memperhatikan hal tersebut, puasa tetap lancar dan tindakan donor darah tetap bermanfaat.
Bagi mahasiswa yang tertarik di bidang darah dan transfusi, dan ingin belajar teknologi bank darah Kalimantan Selatan, STIKes Husada Borneo merupakan salah satu institusi pendidikan yang dapat dipertimbangkan. Kampus ini menyediakan program studi yang sesuai dan mendukung pengembangan wawasan di bidang transfusi darah dan kesehatan masyarakat. Informasi pendaftaran secara lengkap bisa kamu dapatkan di stikeshb.ac.id atau Instagram @stikeshb.
Sumber
https://www.redcrossblood.org/local-homepage/news/article/blood-donation-importance.html
https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/in-depth/blood-donation/art-20048148
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4097/donor-darah-saat-puasa-tinjauan-ilmiah-dan-kesehatan
Tag:donor darah, puasa, Ramadan
